Tak kenal dan tak sayang

Tak ada angin, tak ada hujan. Tiba-tiba saja namanya tertulis disana. Siapa yang mengenalnya? Ya, hanya aku. Sahabat, teman, orang-orang terdekatku tak pernah mengenalnya, mendengar namanya pun mungkin tak pernah. Ya, dialah Bobby Aditama. Dia yang tak pernah ku kenalkan karna aku tak berani.

Bee, begitu aku sering menyapanya. Lebih simple dan berbeda. It’s special for him. Selama ini, saya berhasil menyembunyikannya, sampai suatu hari saya mengutarakan keinginanku agar sahabat dan orang-orang terdekatku mengenalnya. Dia menyambut namun dia takut saya kecewa. Dia seorang workaholic, sangat betah berlama-lama melakukan pekerjaannya. Dia tidak pernah mau meninggalkan pekerjaan yang belum selesai. Dia tidak begitu paham dengan jejaring sosial. Saya mengalah dan baiklah, cobalah membuat akun di facebook (fb). Singkat cerita, dia menuruti, meskipun pada akhirnya dia sangat jarang mengupdate laman fbnya.

Perkenalan saya dengan Bee berawal waktu saya melihatnya sedang sibuk bekerja. Dia terlihat sangat fokus dengan apa yang dia kerjakan. Saya suka dengan cara dia berjalan, cara dia menyapa rekannya. Ya, saya melihatnya disaat dia sedang sibuk. Dan akhirnya dia mendatangiku, kami berkenalan. Beberapa kali saya bertemu tanpa sengaja dengannya. Sampai akhirnya, dia membuat saya nyaman ada didekatnya. Bagi sahabat, teman, dan orang-orang terdekatku, mungkin mereka tidak pernah mendengar saya menyebut nama itu. Kami berhasil menyembunyikannya. Saya memang cukup tersiksa, tetapi saya nyaman dengan dia, dia membuat saya bahagia. Meskipun jarang bertemu.

Di awal 2013 lalu, dia saya perkenalkan di dunia maya. Beberapa teman cukup surprise dengan itu, tapi saya tidak banyak cerita. Cukup dengan menampangkan namanya disana, membuat saya tenang.🙂 Namun, saat ini, semua itu kandas, dia memutuskan untuk tidak melanjutkan lagi cerita kami, karna dia tidak ingin saya terlalu jauh kecewa. Mungkin tidak banyak yang melihat kesedihan saya ditinggalkan olehnya. Memang belakangan malah jadi sering berbeda pendapat, seringnya mendapatkan harapan kosong. Perpisahan itu menjadi sesuatu yang malah melegakan. Dia harapkan saya mendapatkan orang yang lebih bertanggung jawab.

Tentang Bee…
Dia cukup perhatian, meskipun kekasih pertamanya adalah pekerjaannya yang juga hobinya. Dia selalu berhasil menjadi ‘tong sampah’, mendengar semua cerita saya yang sering kali komunikasi via email. Dia marah ketika dia merasa dia pantas marah, seperti saya melakukan kesalahan. Namun marahnya tidak lama, dia akan memberitahukan saya apa yang benar. Toh, pengalaman hidupnya lebih banyak daripada saya. Bagi saya, dia sempurna. Dia punya penghasilan yang cukup dan saya yakin, perempuan mana yang mau menolaknya jika melihat dari materil. Tapi, saya tidak terlalu memperhatikan itu, saya hanya nyaman berada di dekatnya. Bahkan mungkin jika diberi pilihan antara dibiayai travelling sendiri kemanapun saya mau atau tidak diperbolehkan pergi dari suatu tempat dan bersama Bee, saya akan memilih pilihan kedua. DUduk berlama-lama didekatnya sudah cukup membuat saya tenang. Dalam situasi kepanikan melanda saya, saya hanya butuh suaranya, setelah itu, semuanya terkendali. Kadang kala, rasanya aneh, kenapa hanya mendengar beberapa kata darinya berhasil membuatku tenang ya?. Terlalu banyak cerita yang tidak bisa saya ceritakan tentang Bee. Dia terlalu indah untuk dituliskan, untuk dirangkai dalam kata-kata, untuk sekedar berbagi. Saya menjadi punya banyak hutang padanya, yang tentu saja saya tidak tau harus bagaimana membalasnya. Dia sempurna, sangat sempurna bagiku, namun pasti tidak bagi orang lain.

Seandainya Bee membaca tulisan ini suatu hari, saya ingin dia tahu apa yang telah terjadi dalam gejolak jiwaku selama bersamanya.
Bee, Ly sayang sama Bee, Terima kasih atas warna yang telah kau ukir untukku, warnanya sangat indah, warnanya tidak akan pudar, karna Bee terlalu indah mengukirnya. Ly minta maaf karna Ly sangat nakal waktu Bee masih temani Ly. Bee pasti sering BT dengan kelakuan Ly. Tapi Bee kan selalu berhasil bikin Ly bertekuk lutut di hadapan Bee.🙂 Ly sayang Bee.

Tulisan ini saya buat untuk Bobby Aditama, yang tak pernah dikenal oleh mereka yang mengenalku dan aku pun tak pernah mengenal siapa yang mengenal Bobby Aditama. Semua hanya ada dalam nama-nama yang setiap malam kami sebutkan dalam rangkaian cerita kami.
Maaf untuk sahabat, teman, dan orang-orang terdekatku yang tidak pernah kuceritakan tentang Bobby Aditama, karna dia hanya ada dalam hatiku…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s