Penerimaan Mahasiswa Baru STKS Bandung

Assalamualaikum

Senangnya bisa bikin postingan lagi…(walaupun lagi dilanda kepusingan, selain air di asrama lagi gak ada juga karena tugas yang banyak)

Beberapa waktu yang lalu, teman saya, Joko Setiawan (bocahbancar.wordpress.com) melalui akun fb saya meminta saya untuk memposting tentang penerimaan mahasiswa baru stks bandung tahun 2010 di Provinsi Sulawesi Selatan. Saya menyanggupi dan saya akan berusaha menuliskan hal-hal apa saja yang saya ketahui.

Untuk informasi untuk secara umum siyh, bisa dilihat di blog teman saya, mas joko…

Kalo soal informasi tentang penerimaan MABA STKS Bandung di Sul-Sel mah belum jelas. Ada yang bilang pendaftaran ID (Ikatan Dinas) masih ada, ada juga yang bilang tidak dibuka lagi. Hal ini terkait dengan pengangkatan Mahasiswa Ikatan Dinas dari Sul-Sel yang masih dalam proses. Pihak BKD Provinsi masih terus mengusahakan pengangkatan ID Sul-Sel dan kami mahasiswa ID Sul-Sel juga terus berusaha melobi pihak kampus.

Saya sebagai salah satu mahasiswa ID (Ikatan Dinas) Provinsi Sulawesi Selatan tidak mau memberikan janji-janji yang tidak jelas mengenai hal ini. Untuk selanjutnya, teman-teman bisa mencari informasi di BKD Kabupaten setempat. Mengenai jadwal pendaftaran yang lalu-lalu, pihak BKD mungkin punya kewenangan penuh atas jadeal pendaftaran. Mereka berhak menentukan berapa lama pendaftaran akan dibuka (walaupun tidak sesuai dengan lama pendaftaran di kampus STKS Bandung itu sendiri). MIsalnya, pihak STKS Bandung menetapkan 10 hari masa pendaftaran, pihak BKD bisa saja membuka pendaftarannya hanya 3 hari. Jadi, buat teman-teman di Sul-Sel yang ingin mendaftar di STKS Bandung, teman-teman segera cari tahu di BKD Kabupaten setempat tentang jadwal pendaftaran.

Sekedar informasi tambahan, Kepala BKD Provinsi Sul-Sel pernah mengungkapkan bahwa di Sul-Sel saat ini membutuhkan sekitar 1.500 orang pekerja sosial. Sedangkan jumlah calon pekerja sosial profesional yang telah di kirim ke STKS Bandung untuk menempuh pendidikan masih sekitar 150 orang. Jadi, kami mohon doa dari teman-teman agar pengangkatan kami bisa secepatnya tersosialisasikan dan harapan pemerintah untuk memiliki pekerja sosial profesional bisa terwujud sehingga tingkat kesejahteraan masyarakat Sul-Sel bisa meningkat.Amiin…

Itu saja dulu informasi yang saya berikan. Semoga saya bisa mendaptkan informasi yang lebih jelas dalam waktu dekat ini.

Selamat berburu informasi yah…

Advertisements

Siapa kah Sang Desainer Logo Burung Garuda RI

Sebenarnya, bangsa kita ini bangsa yang sangat kaya. Terbukti dengan banyaknya keragaman hayat, budaya, dan lain-lain di negara kita. sayangnya, sumber daya manusia yang kita miliki masih belum cukup untuk mengelola sumber daya alam yang kita miliki.

Sudah banyak kasus yang terjadi dengan sumber daya alam kita, seperti, kasus klaim pulau sipadan dan ligitan yang dimenangkan oleh Malaysia, kasus pulau ambalat, klaim reog ponorogo, sampai yang terakhir kasus lambang garuda pancasila yang menjadi logo sebuah fashion terkenal. Sudah sepantasnya kita menjaga seluruh harta kekayaan yang kita miliki dan tentu sangat mahal harganya. Sepertinya, untuk lebih meningkatkan rasa nasionalisme kita, kita perlu tahu sejarah pembuatan logo burung garuda yang menjadi lambang negara Indonesia tercinta.

Selamat membaca…


Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, dia diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio dan selama jabatan menteri negara itu ditugaskan Presiden Soekarno merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara. Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis Muhammad Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M. A. Pellaupessy, Mohammad Natsir, dan RM Ngabehi Purbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah. Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M. Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M. Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan menampakkan pengaruh Jepang. Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Terjadi kesepakatan mereka bertiga, mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Pada tanggal 8 Februari 1950, rancangan final lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan final lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis. Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali – Garuda Pancasila dan disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri. AG Pringgodigdo dalam bukunya “Sekitar Pancasila” terbitan Departemen Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS. Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih “gundul” dan “’tidak berjambul”’ seperti bentuk sekarang ini. Inilah karya kebangsaan anak-anak negeri yang diramu dari berbagai aspirasi dan kemudian dirancang oleh seorang anak bangsa, Sultan Hamid II Menteri Negara RIS. Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes, Jakarta pada 15 Februari 1950. Penyempurnaan kembali lambang negara itu terus diupayakan. Kepala burung Rajawali Garuda Pancasila yang “gundul” menjadi “berjambul” dilakukan. Bentuk cakar kaki yang mencengkram pita dari semula menghadap ke belakang menjadi menghadap ke depan juga diperbaiki, atas masukan Presiden Soekarno. Tanggal 20 Maret 1950, bentuk akhir gambar lambang negara yang telah diperbaiki mendapat disposisi Presiden Soekarno, yang kemudian memerintahkan pelukis istana, Dullah, untuk melukis kembali rancangan tersebut sesuai bentuk akhir rancangan Menteri Negara RIS Sultan Hamid II yang dipergunakan secara resmi sampai saat ini. Hamid II diberhentikan pada 5 April 1950 akibat diduga bersengkokol dengan Westerling dan APRA-nya.

Hal lain yang juga dilakukan untuk menghilangkan eksistensi Sultan Hamid II adalah perihal siapa yang menjadi desainer dari Lambang Negara Indonesia yang masih terpakai hingga saat ini, yaitu Burung Garuda (biasa juga disebut Garuda Pancasila). Meski sejarah menutup-nutupi, namun sumbangsih Sultan Hamid II selaku perancang Lambang Negara Indonesia tersebut tak boleh dilupakan.


Boleh jadi sejarah dan pencatatan sejarah tidak berpihak kepada Sultan yang cerdas ini. Begitulah penyakit negara bangsa yang kerap dengan mudahnya menghilangkan jasa-jasa dan apa-apa yang telah diperbuat seseorang hanya karena adanya perbedaan pandangan, adanya perbedaan visi seperti mengenai ideologi dan model/bentuk negara, serta adanya pertentangan politik akibat perbedaan itu, terutama jika bertentangan dengan rezim yang berkuasa. Karena rezim yang berkuasalah yang menentukan seperti apa sejarah hendak dicatat dan diceritakan kepada generasi berikutnya.

Sumber: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3240652

Memaafkan dan Melupakan

Assalamualaikum

Apa kabar para blogger???Semoga sehat selalu yah…Alhamdulillah hari ini saya masih diberikan kesempatan untuk tetap berbagi ilmu. Senangnya hari ini bisa buka blog. Untung saja wi-fi kampus juga mendukung.

Okelah kalo begitu…Usaikan basa-basinya yah…hehehe

Dengan mata yang mulai terkantuk-kantuk, saya berusaha melanjutkan tulisan ini biar bisa cepat di posting dan tidak jamuran di dalam hardisk laptop.(Ceritanya, tulisan ini di buat di word semalam)

Ditemani dua orang sahabat saya, dikamar, saya mulai membuka salah satu web favorit saya. Di http://www.adiwgunawan.com/awg.php, saya membuka link artikel dan mulai mencari topik yang cukup menarik.

Kata orang, memaafkan lebih mulia daripada meminta maaf tapi apakah dengan memaafkan maka sekonyong-konyong kita akan melupakan kesalahan orang lain.Atau apakah ketika kita melupakan itu berarti memaafkan? Emosi (baca: marah, kecewa, benci, de el el) muncul sebagai hasil dari suatu pemaknaan. Sebenarnya, tidak ada kejadian yang baik atau buruk. Semuanya tergantung pada persepsi kita. Jadi, semuanya tentang sistem kepercayaan kita. Emosi yang muncul bisa berupa emosi positif, emosi negatif, ataupun netral.

Sebenarnya, apapun yang pernah terjadi pada diri kita, semuanya tersimpan di pikiran bawah sadar kita. Jadi, kita bisa memaafkan tetapi tidak bisa melupakan karena dalam suatu kondisi pikiran bawah sadar kita bisa memutar ulang kejadian tersebut. Yang perlu kita lakukan adalah dengan menetralisis emosi negatif dengan teknik terapi tertentu. Selama emosi tidak berhasil dinetralisir maka kekuatan penolakan untuk tidak memaafkan akan semakin kuat. Penetralan ini bisa dilakukan dengan memberikan pemaknaan baru terhadap kejadian yang tadinya dirasa menyakitkan.

Ada berbagai teknik yang dapat membantu menyelesaikan masalah emosi ini. Misalnya teknik terapi dan variasinya, dengan mengikis emosi ini sedikit demi sedikit, dengan memberikan pemaknaan ulang, pendekatan spiritual, curhat ataupun dengan konseling.

Ada berbagai teknik yang dikemukakan oleh Adi W. Gunawan dalam artikelnya, Apakah Memaafkan Sama Dengan Melupakan?. Saya hanya sedikit memaparkan apa yang tertulis dalam artikel tersebut.

Itu aja deh yang saya sampaikan dulu. Semoga bermanfaat.