Makassar, oohh Makassar

Makassar, sebuah kota yang sedang berjalan menuju kota metropolitan. Pembangunan dimana-mana. Terus berbenah. Tidak heran, banyak truk pengangkut pasir atau bahan bangunan lainnya yang berseliweran tak beraturan bahkan cenderung tidak teratur. Mobil raksasa itu semakin terkenal karena seringnya terjadi kecelakaan yang berkaitan dengan mereka. Korbannya sudah tidak sedikit. Pernah diumumkan bahwa ada peraturan daerah yang mengatur lalu lintas truk berban 10. Hanya sebulan dua bulan truk-truk maut itu tidak muncul di jam-jam sibuk. Setelah itu, mereka kembali bermunculan.

Contoh lainnya adalah kebijakan larangan parkir di pinggir jalan sepanjang Jl. A.P. Pettarani. Jalan itu merupakan jalur yang cukup padat. Menghubungkan bagian utara dan selatan kota. Bagi kendaraan yang terparkir, akan dipasangi pengunci roda. Pada awalnya, berita tentang alat tersebut digembar gemborkan di media. Sehari dua hari, beritanya selalu di halaman depan koran lokal. Minggu depannya, hilang. Beberapa bulan kemudian, saya perhatikan, kebijakan itu tenggelam. Banyak kendaraan yang parkir di sepanjang jalan tersebut sampai kembali membuat kemacetan yang panjang.

Contoh lainnya adalah suatu jalan yang dulunya sempit diperlebar, trotoarnya dipercantik, PKL ditertibkan. Trotoarnya luas, dipakai parkir motor. Trotoarnya sudah cantik tapi untuk lebih mempercantik, trotoarnya dirusak lagi lalu dibuat pot-pot untuk menanam bunga dipinggirnya sebagai batas dengan jalan. Anggarannya tentu tidak sedikit. Tapi saya tidaklah mempermasalahkan berapa yang keluar. Masalahnya adalah adakah perencanaan yang matang untuk membangun kota ini? Setelah membangun, dibongkar lalu dibangun lagi. Waktu yang digunakan pun semakin banyak.

Tapi, itu adalah kelemahan yang tentu saja pasti ada disetiap kota. Terutama yang memiliki ambisi menjadi kota modern yang pada akhirnya bisa saja meninggalkan nilai-nilai budaya lokal. Kelebihannya adalah kota ini punya semangat untuk maju. Pemerintahnya pasti punya tujuan yang ingin segera terlaksana.

Bagi anda yang ingin berkunjung, banyak tempat yang dapat dikunjungi di kota ini terutama wisata pantai. Datanglah di kala matahari baru menampakkan cahayanya dan ketika matahari menunjukkan cahaya jingganya yang berkilauan di atas laut. Tidak akan rugi memandanginya sambil duduk bersama keluarga.

Kelemahan ada untuk menunjukkan kelebihan kita. Makassar, oohh Makassar, akan terkenang dihati siapapun yang pernah mengunjunginya.

Makassar dan Pekerja Anak

Hari ini, saya sekeluarga berekreasi ke suatu tempat wisata. Tapi, ceritanya bukan disini. Kejadiannya terjadi dalam perjalanan pulang. Kami singgah ke sebuah toko, ketika kami hendak menuju parkiran mobil. Kami didatangi dua orang anak yang masing-masing membawa sebuah kaleng yang bagian atasnya ada sedikit lubang untuk memasukkan koin/lembaran uang. Mereka mendekat dan bahkan sangat dekat dengan kami (berdirinya, bukan secara psikologis hahaha). Mereka seakan memaksa kami untuk mengisi kaleng yang mereka bawa sambil memasang muka memelas. Kamipun buru-buru masuk ke mobil dan berusaha menolak mereka. Mereka baru meninggalkan kami setelah kami semua masuk ke mobil dan benar-benar mengabaikan mereka.
Pembicaraan kami di dalam mobil pun berlanjut.
A: ahh, anak-anak itu mending kerja yang lain daripada meminta-minta uang.
saya: *hening
yang lain: iya, bener
A: mending kerja jadi pembantu aja
saya: trus sambil disekolahin
A: ahh, ngapain disekolahin. kerja aja.
B: diikutkan ujian paket aja
A: tidak usah. kerja saja
saya: tidak boleh begitu, itu namanya eksploitasi anak
A: ciie, orang sosial ngomong nih…
yang lain: *ketawa
saya: *hening
Kurang lebih, seperti itulah percakapan kami setelah bertemu dengan anak-anak yang meminta sumbangan itu. Mereka terlihat sangat sehat. Tetapi, entah mereka masih sekolah atau tidak. Sering kali saya dengar, anak-anak di panti asuhan disuruh untuk ‘door to door’ meminta sumbangan demi kelangsungan hidup panti mereka. Tidak sedikit juga, panti asuhan jadi-jadian yang memanfaatkan kepolosan anak untuk kepentingan pribadinya. Upah yang diberikan kepada anak sangat tidak manusiawi dan kebutuhan anak tidak terpenuhi.
Makassar, dengan segala aktivitas keseharian orang-orangnya. Terlihat dengan sangat jelas perbedaan si kaya dan si miskin. Si kaya tidak segan-segan menunjukkan kekayaannya dan si miskin hanya bisa “tangan dibawah”. Si kaya tidak lagi sensitif dalam melihat sekitarnya dan si miskin tidak menyadari kemampuan yang dimilikinya.

Perpisahan

Seorang teman di facebook menuliskan status “Bagaimana rasanya kau jauh, kau rindu, lalu pulang, tetapi itu adalah perpisahan ~pidibaiq~”. Dan saya mengomentarinya dengan “kata pidibaiq, berpisah bukanlah hal yang menyedihkan…yang menyedihkan adalah ketika setelah berpisah, kita malah saling melupakan…”.

Pada masa kuliah, saya merasakan kelengkapan. Lengkap dengan nilai kehidupan, banyak teman, banyak kegiatan. Menjelang kuliah selesai (wisuda), saya berusaha sebisa mungkin memanfaatkan setiap detiknya. Kenapa? Karena saya tidak tahu, kapan bisa kembali ke Bandung. Semuanya saya nikmati dengan sebaik-baiknya. Setiap ada kesempatan (apapun itu), saya ambil. Bahkan konferensi internasional di Yogya pun saya lakoni, selama perginya dengan teman-teman. 

Wisuda pun tiba. Saya harus meninggalkan Bandung dan segala kenangannya. Pada hari itu, saya berjanji, saya akan kembali ke Bandung dan saya merasa yakin akan menemukan hal yang sama. Beberapa bulan di kampung halaman, rasanya tidak akan ada yang berbeda dari Bandung saat terakhir kali saya lihat.

Kesempatan itu akhirnya datang, saya mendapatkan kesempatan untuk menginjakkan kaki lagi di Bandung. Kampung halaman kedua saya. Tiba di Bandung, banyak hal yang berubah. Teman-teman saya sudah memiliki kesibukan masing-masing. Kegiatan yang dulu sering saya lakukan, tidak ada lagi. Semuanya berbeda. Itulah, kerinduan akan Bandung dan segala keunikannya, membuat saya berusaha semaksimal mungkin untuk kembali melihatnya, namun yang terjadi adalah kedatanganku menjadi satu perpisahan yang cukup menyedihkan bagi saya.

Hidup masih harus berjalan, meskipun terjadi perpisahan yang cukup menyedihkan, saya harus tetap melangkah. Toh, dengan bersedih tidak akan mengembalikan semua itu. Saya mulai berjalan lagi, berusaha beradaptasi dengan lingkungan saya, dan saya kembali menikmati masa-masa ini. Tapi, tidak berlangsung lama, saya harus pergi lagi. Entahlah, saya tidak bermaksud mengacak-acak hati siapapun. Toh, hati saya pun ikut terluka.

Teman, hidup terus berjalan. Kita akan tetap terbawa arus, tapi jangan biarkan diri kita hanyut. Tetaplah berdiri tegak diantara derasnya arus itu. Karena kau kuat, aku kuat, dan kita semua kuat. Tetap saling mengingatkan dan merindukan. Untuk perpisahan yang indah…

Ku renungkan, ku tulis, ku bagikan…